Pemula Investasi Harus Tau Hal Ini

Apakah saham konsumsi itu defensive? Umumnya pemain saham berpikir kalau saham lagi rawan koreksi, paling bagus investasi di sektor konsumsi seperti Unilever, ya kan? Tahun 2013 membuktikan teori itu salah! Sektor konsumsi bleeding turun -22% dalam setengah tahun.

Secara fundamental memang betul konsumsi = kebutuhan primer lebih kebal krisis, “inelastis” bahasa ekonomi nya yang kita pelajari ketika duduk di bangku SMP. Mau lagi susah gimana, orang tetap makan nasi setiap hari dan tentu saja menggunakan shampoo. Itu fundamental, beda dengan jika kita bicara tentang saham. Ada faktor lain seperti valuasi yang menentukan, saham selalu dinamis. Kalau saham selalu bergerak seperti teorinya, dosen – dosen ekonomi tentunya sudah kaya raya bergelimang harta.

Banyak juga dari para investor pemula yang bingung ingin mulai investasi saham dari mana. Pertama-tama, perhatikan sektor industri pada saham tersebut. Pergerakan saham di IHSG berbeda beda, namun umumnya sejalan pada sektor yang sama.
Bila kita menginginkan potensi keuntungan besar ( rugi jg besar =P ), penuh volatilitas, sektor pertambangan dapat menjadi jawabannya. Sementara bila kita menginginkan keuntungan yang stabil menarik dan downsidenya rendah, maka sektor perbankan juaranya.

Biasanya kendala umum yang akan dirasakan oleh para investor pemula adalah bingung melihat IHSG yang naik turun seperti roller coaster. Pasti banak sekali yang bingung sebenarnya mau naik atau mau turun.

Lihat pada gambar, pertumbuhan laba bersih yang merupakan backbone dari IHSG naik 12% dibandingkan setahun sebelumnya. Ingat, sepanjang laba tetap bertumbuh maka para investor bisa tenang. Selalu banyak terdapat faktor lain yang dapat menjadi isu menggerakan IHSG, seperti isu perang dagang, fluktuasi rupiah, dan isu-isu baru lainnya.. Menciptakan “noise” membuat IHSG fluktuatif membingungkan.

Kuncinya, sepanjang isu tersebut terkendali, dalam arti tidak mempengaruh backbone dari IHSG, yaitu pertumbuhan laba bersih, maka investasi kita aman. Bila tujuan kita investasi, abaikan fluktuasi jangka pendek, jangan termakan “noise”.

Sering dengar orang investasi saham malah rugi? Aset saham memang memiliki fluktuasi yang tinggi seperti yoyo, terutama dalam jangka pendek. Namun fluktuasi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Perpanjang waktu investasi kita yang pendek menjadi 3 tahun, 5 tahun, atau lebih. Dapat dilihat pada fakta yang ada, berdasarkan data historis sejak tahun 2001.. Bila berinvestasi untuk 5 tahun, apes2nya kita salah timing masuk, masih mendapatkan return 5% pertahun, sementara mujur2nya bisa 46% rerata pertahunnya.

Jangan Sampai Anak Menjadi Korban Sandwich Generation

Emang selalu bikin sedih ya kalau bahas “Sandwich Generation”. Kita nggak bisa salahkan orang tua juga yang saat muda belum melek finansial. Tapi setidaknya kini kamu tau kalau harus memperbaiki keadaan tersebut supaya rantai sandwich generation ini putus. Siapa di sini yang jadi korban sandwich generation?

Tingkat finansial tertinggi adalah ketika kita bisa menikmati masa tua dengan tenang karena keadaan keuangan yang bisa menunjang kehidupan sampai tua nantinya tanpa membebani anak. Apalagi melihat anak kita yang sudah tumbuh dewasa dan menjadid orang yang sukses.

Tetapi ternyata tidak semua orang mempersiapkan keuangan untuk hari tua nya nanti loh. Jadi, anak akan menjadi korban “Sandwich Generation”. Si anak harus membiayai kebutuhan hidup orang tuanya ditambah lagi dia harus memenuhi kebutuhannya dan keluarga barunya kelak.

Hal yang bikin sandwich generation muncul salah satunya minim pengetahuan orang tua saat masa muda tentang perencanaan keuangan. Malah buruknya ada yang menjadikan ini sebagai tradisi, kalau kelak, saat anak sudah sukses harus membiayai hidup orang tuanya. Kita jangan sampai terjebak dengan pemikiran seperti ini ya, guys.

Sebenarnya untuk anak memberikan uang kepada orang tua tentu saja boleh, malah harus sebagai bukti berbakti. Tetapi berikanlah semampunya, orang tua juga sebaiknya tidak menuntut anaknya memberikan uang atau membiayai kehidupannya, karena itu bukan fungsi dari anak. Anak bukanlah celengan atau investasi masa depan.

Jika terjebak dalam rantai generasi sandwich, jangan terlalu menyalahkan orang tuamu. Kamulah sekarang yang harus memutuskan rantai tersebut, jangan sampai ini mendarah daging sampai ke anak, cucu, cicit, dan keturunan kita seterusnya.

Bagaimana Cara Memutus Rantai Sandwich Generation?

Kita harus belajar mengenai perencanaan keuangan yang baik, investasi, dan beberapa risiko keuangan lainnya. Kalian bisa mendapatkan informasi itu dimana saja, TV, video, sosial media atau berkonsultasi langsung dengan ahlinya. Intinya jangan malas deh ya mencari tahu apa yang kita butuh. Jika berjuang sedini mungkin, pasti akan ada cara untuk memutus rantai sandwich generation ini.